Sosok di Balik Bubur Terfavorit Kelapa Gading

Matahari merunduk rendah di atas Kelapa Gading, mewarnai Jalan Boulevard Timur dengan cahaya keemasan yang lembut. Golden hour menyelimuti sebuah gerobak kayu sederhana, sementara lis aluminiumnya memantulkan sinar matahari seperti emas kusam. Beberapa meter dari situ, jalan utama tetap riuh oleh hiruk pikuk warga yang pulang kerja. Tetapi, di bawah naungan ruko sederhana ini, suasana yang lebih tenang perlahan terbentuk. Di sana, para pelanggan berbaris rapi menunggu giliran untuk semangkuk bubur ayam panas mengepul.

Inilah Bubur Ayam Khas Mayong, usaha sederhana yang berdiri di atas kebaikan, kesabaran, dan ketekunan. Pemiliknya, Solikhin Prabowo—lebih akrab disapa Pak Mayong—telah melayani pelanggan setianya sejak 1997.

“Dulu pernah kerja di pabrik, pernah ikut orang juga. Apa aja lah saya lakonin, yang penting bisa makan,” dia mengenang masa awal setelah merantau dari Pemalang, Jawa Tengah, pada 1990-an. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, tetapi ia mendambakan sesuatu yang benar-benar miliknya. “Prinsipku, saya ke Jakarta pengen mandiri dari orang tua,” katanya. Kemandirian itu menuntutnya harus memulai segalanya dari nol—sebuah pengorbanan yang ia terima tanpa ragu.

Gerobak pertamanya dulu dibawa berkeliling kompleks perumahan sekitar untuk menjajakan bubur ayam dari rumah ke rumah. Lalu, datanglah tahun 1998—masa penuh gejolak politik dan ketidakpastian yang mengguncang seluruh lapisan masyarakat. Ketegangan meningkat, akses ke lingkungan perumahan diperketat, dan jalan-jalan ditutup. Kompleks tempatnya mencari nafkah tiba-tiba tak bisa dimasuki. Untuk sesaat, usahanya seolah-olah akan lenyap secepat ia memulainya.

Lalu, sebuah tindakan kecil namun penuh welas asih mengubah segalanya. “Saya dipanggil sama orang BCA,” ia mengingat. Seorang staf bank, yang melihatnya kebingungan, menawarkan tempat kosong di samping gedung. Gesti kecil itu—nyaris tak terlihat oleh dunia—menjadi penentu hidupnya.

Dari sebidang trotoar itu, ia membangun usaha yang berakar pada kemurahan hati. Sementara banyak pedagang menakar porsi dengan cermat, prinsip Pak Mayong justru sebaliknya: lebih banyak lebih baik. Semangkuk bubur di sini adalah gunungan kecil—bubur nasi kental, suwiran ayam, kerupuk renyah, bawang goreng, dan siraman kuah kuning gaya Cirebon dari resep istrinya.

“Mereka mau tambah apa pun silakan,” katanya sambil tersenyum, menambahkan bahwa ia tak pernah menarik biaya tambahan untuk kerupuk atau bawang goreng. Pak Mayong percaya dengan pelayanan berlimpah, maka pelanggan akan kembali.

Setiap hari, hingga dua puluh liter bubur dimasak untuk shift sore saja. Namun, Pak Mayong tetap bersikeras hadir sendiri, menyapa pelanggan dan menyendokkan bubur di tempat yang membesarkan namanya. “Pelangganku suka nanya, ‘Mana nih Mas Mayongnya?’” ia tertawa. “Ya aku harus ada.”

Ia akui kesabaran bukanlah bawaan lahir. “Aku dulu orangnya nggak sabaran,” katanya. Namun, tahun-tahun di jalanan telah mengikis sisi-sisi kasarnya. Berjualan dengan gerobak mengajarinya menahan diri, menghadapi tantangan, dan menerima gangguan apa pun yang muncul. “Begitu saya jualan begini, itu untuk mengasah aku jadi orang sabar,” dia menjelaskan. Seruwet apa pun permintaan pelanggan atau seribut apa pun jalanan, ia belajar menghadapi semuanya dengan tenang. “Karena inilah dunia saya,” katanya. “Kalau saya nggak sabar, aku nggak akan seperti ini.”

Dan di dunia itulah kebaikan berputar. Pak Mayong mempekerjakan ibu-ibu dari lingkungan sekitar untuk membantu persiapan: dari memotong daun bawang, menggoreng bawang, hingga menyuwir ayam. Ia bersyukur bisa memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga-keluarga itu, dan tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi.

Namun, yang paling mendefinisikan dirinya bukanlah model bisnisnya, melainkan rasa syukur yang begitu dalam—seperti urat nadi yang menyangga hidupnya. Ketika ia bercerita tentang orang-orang yang membantunya di masa awal usahanya, matanya berkaca-kaca dan suaranya bergetar. Ia ingat warga sekitar yang membelanya ketika akses kompleks ditutup, pegawai BCA yang pertama kali mempersilakannya berjualan, dan tetangga-tetangga yang tetap membeli buburnya meski ia masih baru belajar. “Kalau saya ingat mereka,” ucapnya pelan, air mata hampir jatuh, “kadang saya mau nangis.”

Ia bersikeras bahwa kesuksesannya adalah milik mereka, sama besarnya dengan miliknya sendiri. Melalui usaha ini, ia menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, memberangkatkan orang tuanya umrah, dan menjaga agar para pekerjanya tetap memiliki pekerjaan. Meski hidupnya kini lebih stabil, rasa syukurnya tidak pernah berubah. “Jangan saya sendiri yang senang,” katanya. “Mereka pun ayo ikut senang.”



Langit perlahan bergeser dari emas ke ungu tua, menandai hari yang mulai meredup. Saat kebanyakan orang mulai beristirahat setelah seharian bekerja, Pak Mayong justru bersiap memulai putaran berikutnya. Ia berdiri, merapikan celemeknya, lalu melangkah menuju barisan pelanggan baru yang menunggu di gerobaknya.

Ia menyapa mereka satu per satu, dan mereka membalas dengan antusias kehangatan khas seseorang yang telah menjadi bagian dari hidup mereka. Ia menyendokkan bubur ke dalam mangkuk, uapnya melayang naik, memudar bersama cahaya senja.

“Saya tidak akan pernah lupa orang-orang yang sudah membantu saya,” katanya sambil tersenyum saat matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala.

“Kacang tidak akan lupa dengan kulitnya.”


Discover Other Stories