Si Peracik Mie Ayam yang Mengingat Setiap Mangkuk

Di sepanjang Kelapa Hybrida, ruko-ruko yang menjadi rumah bagi berbagai tempat makan bukanlah pemandangan yang sulit ditemukan. Beragam usaha kuliner hadir menawarkan sajian untuk hampir setiap selera. Di tengah persaingan yang semakin ketat, restoran bakmi dengan berbagai gaya dan karakter terus bermunculan, mendorong para pelaku usaha mengandalkan kreativitas dan inovasi untuk menarik perhatian pelanggan yang semakin selektif.

Lantas, apakah masih adakah ruang bagi hidangan klasik untuk bertahan di tengah kerasnya persaingan kuliner Kelapa Gading? Apakah semangkuk mi ayam khas Wonogiri masih punya tempat di kawasan yang para pemain barunya berlomba menghadirkan topping dan kreasi mi yang semakin inovatif?

Jika Mie Ayam Dalban bisa menjadi tolok ukurnya, jawabannya adalah: Ya.

Tempat makan ini menempati lantai pertama sebuah ruko yang berbagi ruang dengan beberapa usaha kuliner lain. Ruangannya mengutamakan fungsi, selalu terjaga bersih, dan nyaman bagi mereka yang datang untuk menikmati semangkuk mi. Di tengah hiruk-pikuk kecil para pelanggan, bunyi gelas yang beradu dan kepulan uap dari panci kuah di sebelahnya menjadi bagian dari suasana, sebelum perhatian mereka perlahan beralih ke stasiun mi milik Pak Dalban.

Semangkuk mi ayam di sini dibanderol seharga Rp21.000. Tapi kilas balik ke tahun 2002, waktu Pak Dalban pertama kali buka lapak yang jaraknya cuma beda beberapa ruko dari tempat sekarang, harganya cuma Rp2.500. Waktu itu, Pak Dalban hanya seorang perantau dari Jawa Tengah yang ikut kerja sama orang. Setelah setahun belajar seluk-beluk jualan, dia sadar kalau rutinitas ikut orang bukan jalannya. Dia tidak betah dengan kerjaan yang monoton, dan merasa butuh sesuatu yang menuntut inisiatif serta passion-nya sendiri.

Tanpa jaring pengaman sama sekali, Pak Dalban nekat milih jalan buntu yang sepi dan agak rawan di Kelapa Gading buat memulai usahanya sendiri. Di awal tahun 2000-an, daerah itu langganan banjir dan sering didatangi preman lokal yang mencari sasaran empuk untuk dipalak. Biar bisa bertahan, Pak Dalban harus kreatif dengan penampilannya; dia mengecat rambutnya jadi pirang biar kelihatan sangar dan bikin preman terintimidasi. Usahanya terbukti sukses, bukan cuma bertahan dari banjir dan preman, tapi juga melewati bulan-bulan awal yang sepi pembeli.

Titik baliknya datang di tahun 2011 waktu Pak Dalban mulai ikutan event-event kuliner di daerah tersebut. Mi hasil racikannya berkembang pesat, sampai puncaknya di tahun 2016 ketika ada kompetisi yang panel jurinya terdiri oleh seorang celebrity chef. Dalam sesi blind taste test melawan kompetitor, profil rasa mi Pak Dalban yang simpel tapi gurih berhasil memikat hati juri, hingga dia berhasil mendapatkan gelar Juara Mie Ayam Nusantara.

Masuk tahun 2018, berkat ulasan dari para food vlogger dan media sosial, kedainya langsung viral. Tiba-tiba, Pak Dalban harus menghadapi antrian kacau yang membeludak, dan efeknya ke fisik luar biasa: dari yang biasanya mengejar 150 porsi di hari senggang, langsung melonjak jadi hampir 300 mangkuk setiap hari. Dia bahkan ingat momen waktu harus meracik 200 mangkuk mi tanpa henti, yang bikin otot tangannya kram dan keseleo.

Serbuan mendadak dari pelanggan yang kelaparan dan tidak sabaran sering membuat antrean macet total. Karena waktu itu belum ada sistem yang pakem, barisan antrian berubah jadi ajang adu mental; ada yang sengaja menyembunyikan kertas pesanan, menyerobot antrian, atau diam-diam menaruh pesanan mereka langsung di meja dapur. Hal ini jelas memicu adu mulut sampai teriak-teriakan tepat di depan ruko. Tidak jarang juga pelanggan jadi agresif cuma demi dapet mi beberapa menit lebih cepat. Ancaman kerusuhan harian ini akhirnya memaksa Pak Dalban buat berinovasi. Ketika pandemi melanda, demi jaga jarak dan menertibkan kerumunan yang gampang tersulut emosi ini, dia akhirnya menerapkan sistem efisien: pelanggan wajib nulis pesanan khusus mereka langsung di sobekan kertas bernomor.

Sekarang, Pak Dalban menghadapi tantangan yang berbeda: pelanggan-pelanggan setia yang merasa mi mereka paling pas jika dibuat langsung olehnya. Setelah lebih dari dua dekade berada di balik gerobak, ia telah membangun pemahaman yang hampir intuitif terhadap para pelanggannya. Ia hafal selera para pelanggannya. Ada yang suka mi lebih kenyal, ada yang meminta racikan lebih kering, dan ada pula yang ingin takaran minyak atau sambalnya dibuat khusus.

Bagi Pak Dalban, memenuhi permintaan-permintaan tersebut adalah inti dari bisnis yang ia bangun. Ia melihat orang-orang yang berdiri dalam antreannya bukan hanya sebagai pemasukan sesaat, melainkan sebagai fondasi dari segala sesuatu yang telah ia perjuangkan selama ini.

"Menurut saya, pelanggan itu aset jangka panjang yang harus kita jaga. Mereka datang ke sini maunya seperti apa, kita harus melayani dengan hormat, karena mereka adalah aset yang paling berharga."



Ia mengakui bahwa rasa lelah secara fisik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pekerjaan ini. Namun, baginya, ada batas yang tidak boleh dilewati dalam hal sikap: tubuh yang letih adalah hal yang wajar dalam dunia pelayanan, tetapi jangan sampai rasa lelah membuat kita kehilangan semangat dan mengorbankan kualitas pekerjaan.

Bahkan setelah dua puluh empat tahun menghadapi rutinitas yang menguras tenaga setiap harinya, masih ada satu pertanyaan yang terus membuatnya heran sekaligus tersenyum: mengapa orang-orang yang biasanya begitu masuk akal bisa tiba-tiba kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan semangkuk mie?

"Kenapa kalau ngantri mie ayam, orangnya pada emosian? Beda sama orang-orang yang ngantri minuman," ia merenung.

Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya menawarkan sebuah jawaban kepada pertanyaan itu.

"Mungkin saking laparnya, bisa jadi."


Discover Other Stories