Seni Mengamati dari Balik Dapur

Menyusuri Jalan Boulevard Raya sering kali bikin pengunjung bingung memilih tempat makan. Dengan begitu banyak tempat makan menarik yang berjejer di sepanjang kawasan kuliner legendaris Kelapa Gading ini, rasanya sulit menentukan harus berhenti di mana untuk makan enak. Namun bagi sebagian pencinta bakmi di kawasan ini, jawabannya jelas: Bakmi Sanming.

Dari luar, ruko ini cukup mudah terlewat, menyatu begitu saja dengan hiruk-pikuk kawasan di sekitarnya. Namun begitu masuk, pengunjung akan disambut suasana yang hangat. Cermin-cermin besar memenuhi dinding—taktik desain interior untuk membuat ruang makan terasa lebih terang dan lapang—sementara panel-panel foto menampilkan menu yang jauh lebih beragam dari sekadar bakmi.

Semua itu merupakan hasil kerja Ci Santi, pemilik Bakmi Sanming. Sebagai sosok yang begitu teliti soal masakan sekaligus tuan rumah yang ramah, kerja kerasnya di dapur dan perhatiannya kepada pelanggan menjadi bagian penting dari perjalanan tempat makan ini hingga begitu dikenal oleh warga Kelapa Gading.

Namun, hubungan Ci Santi dengan dunia kuliner berawal jauh sebelum restoran ini menempati rumahnya yang sekarang. Bakmi Sanming pertama kali berdiri sekitar tahun 2000, berawal dari sebuah tenda pinggir jalan. Setelah tiga tahun berjalan, usahanya pindah ke sebuah ruko, di mana menunya secara bertahap mulai berkembang melewati sajian awal yang hanya berupa bakmi dan menu pendamping sederhana.

Pindah ke ruko tentu membawa tantangan tersendiri. Tempat yang lebih besar berarti ruang yang lebih luas, tetapi juga biaya yang lebih besar. Ci Santi pun menyadari bahwa usahanya harus ikut berkembang.

“Setelah di ruko, otomatis kebutuhannya makin banyak. Contoh, dari harga sewa. Kalau kita enggak berinovasi untuk penambahan menu, kan enggak mungkin juga dengan harga sewa pada saat itu.”

Pelan-pelan, menu pun bertambah. Yang awalnya hanya kedai bakmi kemudian berkembang menjadi tempat makan dengan beragam hidangan khas Indonesia-Tionghoa: nasi goreng, pangsit rebus, kwetiau siram, capcay, dan masih banyak lagi. Meski begitu, bakmi tetap menjadi menu utama bagi kebanyakan pengunjung. Pilihannya terdiri dari tiga jenis mi—kecil, lebar, dan karet—ditambah varian mi hijau terbaru yang dibuat menggunakan sayuran.

Ci Santi secara bertahap mengambil alih proses produksi secara mandiri. Mi diproduksi sendiri di restoran, begitu pula dengan berbagai topping, hingga minuman liang teh kemasannya. Baginya, ini tentang menciptakan rasa yang benar-benar menjadi ciri khas Bakmi Sanming.

“Pastikan kita ada punya satu ciri khas yang beda dari yang lain. Dari kita ambil tuh, kita berusaha untuk mencoba mencari yang lebih baik dari rasanya atau teksturnya.”

Upaya mencari sesuatu yang lebih baik itu tentu melibatkan banyak percobaan. Beberapa menu favorit pendamping lahir dari cobaan berulang kali untuk mencari tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak. Bakmi memang menjadi alasan banyak orang datang, tetapi menu pendampingnya juga patut diperhatikan: bakso goreng, siomay, dan sate babi termasuk beberapa menu yang cocok dipesan untuk disantap dengan bakmi.

Namun di balik semua kesibukan dapur, Ci Santi memiliki cara sederhana untuk menilai apakah suatu hidangan sudah berhasil atau belum: ia memperhatikan orang-orang yang sedang makan.

Dari tempat duduknya di restoran, matanya selalu memperhatikan mangkuk-mangkuk yang kembali ke dapur. Apakah olahan dagingnya sudah pas? Apakah kuahnya perlu disesuaikan lagi? Bahkan ketika sebuah resep sudah dianggap sempurna, ia tetap mencicipi dan menyempurnakannya.

“Perubahan sih pasti ada. Kita mencari yang lebih baik. Itu pasti kita terus eksperimen untuk mencari, oh ya sampai di titik mana nih yang bener-bener oke.”

Namun, terkadang ia tidak membutuhkan komentar dari pelanggan untuk tahu apakah makanannya berhasil.

“Aku paling senang sekali melihat customer makan seperti orang kalap,” ujarnya sembari tersenyum.

Bagi Ci Santi, ada kepuasan tersendiri saat melihat seorang pelanggan menikmati semangkuk bakmi dengan begitu lahapnya, seolah tidak ada hal lain yang lebih penting saat itu.

“Kadang-kadang aku enggak mau nanya, tapi kita melihat customer seperti itu kan ada kepuasan di dalam diri kita.”

Kebiasaan memperhatikan inilah yang membuat hubungannya dengan pelanggan tidak berhenti pada sekadar menerima pesanan. Ia mengenali para pelanggan setianya, bertukar sapa dengan wajah-wajah yang tak asing, dan sesekali menyajikan minuman gratis ke meja pelanggan yang sering datang. Ada pula pelanggan yang datang dari Bandung, Serpong, hingga Bekasi untuk makan di sini. Namun, banyaknya pelanggan juga menghadirkan tantangan kecil yang cukup menggemaskan: mereka sering kali langsung mengenali Ci Santi, sementara ia tidak selalu ingat setiap wajah yang datang.

Hal itu cukup bisa dimaklumi untuk sebuah tempat makan yang sudah begitu lama menjadi bagian dari kehidupan kuliner Kelapa Gading. Alih-alih membuka cabang baru, Ci Santi masih ingin terus menambah bahan yang dibuat sendiri di dapur.

Babak berikutnya justru mulai berlangsung di dalam keluarga. Anak sulungnya kini mulai membantu mengurus resep dan dapur—sebuah perkembangan yang terasa pas untuk tempat usaha keluarga ini.

“Mungkin dia enggak nanya sama aku, tapi dia melihat sendiri. Melihat sendiri dan dia merasakan sendiri seperti kalau orang tuanya berusaha untuk ngebangun, ngebentuk usaha ini sampai sekarang.”



Namun untuk saat ini, Ci Santi belum berniat meninggalkan dapur. Ketika ada mangkuk yang kembali dalam keadaan bersih tak bersisa, ia mencatatnya. Ketika ada pelanggan yang menyisakan makanannya, ia ingin tahu penyebabnya. Ini adalah kebiasaan kecil, tetapi menggambarkan bagaimana ia membangun Bakmi Sanming: dengan selalu memberi perhatian penuh, dan tak pernah merasa bahwa dirinya sudah tahu segalanya.


Discover Other Stories