Sebelum Bakmi Niaga menjadi sebuah restoran, bakmi sudah lama menjadi bagian dari tradisi keluarga Kevin. Sejak kecil, pagi harinya hampir tidak pernah dimulai tanpa uap hangat dari semangkuk bakmi yang menenangkan. Ritual harian itu selalu dijalankan oleh ayahnya, yang setiap subuh berkeliling mencari penjual bakmi di sekitar rumah, lalu pulang membawa bungkusan plastik berisi bakmi atau mengajak seluruh keluarga untuk makan di luar.
Lambat laun, kecintaan bersama terhadap bakmi ini tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Setiap kali keluarga mereka bepergian ke luar Jakarta, ibu Kevin paling tidak mau ritual sarapan mereka hanya mengandalkan keberuntungan. Daripada bertaruh pada warung pinggir jalan yang belum tentu cocok dengan selera, ia memilih membuat versinya sendiri dan membawa sedikit rasa rumah ke perjalanan mereka.
Karena harus dibawa bepergian, resepnya dibuat sederhana. Tidak ada sambal rumit yang dimasak berjam-jam atau taburan pelengkap yang merepotkan. Ia hanya merebus cabai segar, menghancurkannya langsung ke dalam bakmi yang sudah dibumbui, lalu menambahkan topping daging babi cincang yang gurih. Bertahun-tahun kemudian, resep rumahan inilah yang tanpa diduga menjadi fondasi bisnis keluarga mereka.
Ketika pandemi datang, Kevin dan keluarganya mendapati lantai dasar ruko milik ayahnya di Sunter kosong dan sunyi. Di tengah banyaknya waktu luang dan ketidakpastian di mana-mana, muncul sebuah pertanyaan sederhana: mengapa tidak membagikan kelezatan bakmi yang sudah mereka cintai seumur hidup ini kepada orang lain?
Namun, mengubah kenangan dari dapur rumah menjadi dapur komersial bukanlah perkara mudah. Kevin segera berhadapan dengan rumitnya cara memasak sang ibu yang selama ini mengandalkan insting, kebiasaan tangan, dan pengalaman mencicipi selama bertahun-tahun.
“Orang tua masak tuh biasa pakai perasaan,” Kevin menjelaskan. “Nggak pakai takeran.”
Masakan yang dibuat berdasarkan “perasaan” mungkin menjadi sesuatu yang istimewa untuk makan malam keluarga di hari Minggu, tetapi menjadi tantangan besar ketika harus menyajikan ratusan mangkuk kepada pelanggan setiap hari. Konsistensi menjadi kunci sehingga Kevin mulai menerjemahkan intuisi masakan ibunya menjadi sistem yang lebih terukur dan bisa diulang.
Selama berbulan-bulan, mereka melakukan berbagai penyesuaian. Takaran bumbu ditimbang hingga hitungan gram, sementara potongan lemak babi yang tepat untuk menghasilkan minyak keemasan yang sempurna menjadi bahan diskusi panjang. Setiap variabel yang dicatat dan dikunci menciptakan sebuah formula yang diharapkan tetap menghasilkan rasa yang sama bahkan bertahun-tahun ke depan.
Ketika akhirnya Bakmi Niaga dibuka di Sunter pada 2021, ekspektasi mereka sebenarnya cukup sederhana. Dengan hanya empat meja, mereka berharap bisa bertahan lewat kunjungan keluarga, teman, dan rasa penasaran dari tetangga sekitar.
Namun, pencinta bakmi Jakarta punya standar yang tinggi. Mereka dengan cepat menyadari satu hal yang membuat Bakmi Niaga berbeda: sambal cabainya yang pedas dan dihancurkan manual sudah langsung dicampurkan ke dalam bakmi, bukan disajikan terpisah sebagai pelengkap seperti di kebanyakan tempat lain. Perbedaan kecil dari kebiasaan inilah yang kemudian menjadi ciri khas mereka.
Seiring menyebarnya kabar dari mulut ke mulut, bisnis mereka berkembang dan akhirnya membawa Bakmi Niaga ke Kelapa Gading—kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat terbesar dunia perbakmian Jakarta. Bagi pendatang baru, memasuki wilayah ini tentu bukan perkara yang mudah.
“Ini kayak pusatnya bakmi lah buat orang Jakarta Utara,” ujar Kevin.
Tantangannya bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal budaya. Warga Gading dikenal sangat loyal terhadap tempat makan langganan mereka, terutama kedai-kedai legendaris yang sudah bertahan lintas generasi. Untuk mendapatkan tempat di tengah komunitas ini, Kevin harus berpikir secara strategis.
Ia melihat ada celah: sebagian besar kedai bakmi ternama di kawasan tersebut tutup setiap Senin untuk beristirahat.
Maka, Bakmi Niaga menjadikan Senin sebagai hari utama mereka dan memilih menutup restoran pada hari Selasa. Sebuah langkah sederhana, tetapi sangat efektif. Ketika tempat-tempat favorit warga sedang tutup, kompor Bakmi Niaga tetap menyala, perlahan mengajak para pencinta bakmi tradisional untuk mencoba semangkuk yang berbeda.
Istri Kevin, Melissa, yang menyaksikan perjalanan Bakmi Niaga sejak masa soft opening yang masih sepi, melihat bagaimana bisnis keluarga yang sering kali menjadi sumber gesekan justru berkembang dengan harmoni yang alami.
Di masa-masa awal yang penuh kekacauan, Melissa menjadi sosok yang mengerjakan hampir semuanya: membungkus pesanan takeaway, melayani pembayaran, hingga membantu operasional harian. Kevin menghabiskan hampir seluruh waktunya di depan kompor panas yang terus menyala. Ibunya berjaga di area racikan bumbu, sementara ayahnya mengambil peran yang lebih tenang—mengamati suasana restoran, memastikan semuanya berjalan lancar, dan menjaga operasional dari belakang.
Kini, peran Kevin sudah berubah. Ia tidak lagi hanya berdiri membuat satu mangkuk demi satu mangkuk, tetapi mulai mengarahkan perkembangan merek Bakmi Niaga. Namun, dorongan yang membuatnya membangun bisnis ini tetap berasal dari sesuatu yang sangat personal.
Menurut Melissa, keputusan Kevin membangun usaha bersama orang tuanya lahir dari rasa sayang yang sederhana. Ketika proyek arsitektur ayahnya dan kondisi pekerjaan ibunya mulai berubah, Kevin melihat kesempatan untuk membangun sesuatu yang bisa menjadi pegangan bagi mereka. Bakmi Niaga adalah cara seorang anak memastikan masa depan orang tuanya tetap terjamin, terutama ketika mereka memasuki usia yang lebih tua.
Hari ini, jika Anda meminta Kevin mengategorikan gaya Bakmi Niaga, ia akan mengatakan bahwa bakminya tidak bisa dikotakkan ke dalam satu daerah tertentu. Sebaliknya, hidangan ini adalah kumpulan dari selera keluarga mereka sendiri: tekstur mi keriting yang tebal dan memuaskan dengan tingkat kematangan yang sedikit lebih firm, perpaduan gurih dari ayam kukus yang lembut dan daging babi berbumbu, serta rasa asin-gurih yang kuat sesuai dengan lidah keluarga mereka.
Ini benar-benar sebuah potret keluarga yang diterjemahkan dalam bentuk mi, minyak, dan cabai.
Kecintaan Kevin terhadap bakmi bahkan sudah sangat mendalam.
“Mungkin karena keseringan makan bakmi nih, sampe kalo disuruh pilih mana yang punah, nasi atau bakmi, gue lebih pilihin nasi yang punah, gue makan bakmi tiap hari,” kata Kevin sambil tertawa. “Itu sih. Gue kayaknya nggak bisa hidup tanpa bakmi.”
Rasanya memang tepat jika hidupnya kini didedikasikan sepenuhnya untuk menjaga satu resep ini. Sebuah hidangan sederhana yang lahir dari kreativitas seorang ibu saat membawa rasa rumah dalam perjalanan panjang, kini telah menemukan tempat permanen di tengah persaingan kuliner Jakarta yang begitu ketat.