Kelapa Gading sudah lama identik dengan makanan enak dari berbagai penjuru Indonesia, yang bisa memanjakan lidah dengan selera apa pun. Tapi, di antara sekian banyak pilihan, ada satu tempat yang terasa paling “Kelapa Gading”. Bukan cuma karena cita rasanya, tapi juga karena kisah panjang tentang perantauan, keluarga, dan keteguhan yang bertahan puluhan tahun. Tempat itu adalah Sop Konro Karebosi.
Berlokasi di Boulevard Raya, restoran ini menempati ruko besar yang kini sering dijadikan patokan oleh warga. Kalau seseorang memberi petunjuk arah, besar kemungkinan ia akan bilang, “dekat Sop Konro Karebosi.” Bangunannya tidak mencolok, tapi punya karakter yang kuat. Di lantai satu, ruang makan yang luas menyatu langsung dengan dapur terbuka sehingga semua aktivitas memasak bisa terlihat. Panci-panci besar berisi kuah terus dipanaskan dan diawasi. Iga sapi dipotong dan diporsikan dengan cekatan. Hidangan bergerak cepat dari talenan ke meja, dibawa staf yang sudah hafal ritmenya. Di lantai atas, ada ruang ber-AC bagi pelanggan yang ingin menikmati makanan dengan suasana lebih sejuk.
Keberlanjutan yang panjang itu sangat dipahami oleh Nia Hanafie. Berpenampilan rapi dengan pembawaan tenang, ia berbicara dengan irama yang terukur, disertai kebanggaan yang jelas terhadap asal-usulnya.
Kisahnya dimulai jauh dari Jakarta, yaitu di Makassar, tepatnya di Lapangan Karebosi. Lapangan ini bukan sekadar ruang terbuka, melainkan salah satu landmark paling dikenal di kota itu. Dengan luas sekitar 11 hektare, lapangan ini berfungsi sebagai pusat olahraga sekaligus tempat warga berkumpul dan berinteraksi.
Pada 1968, jauh sebelum usaha ini punya nama resmi, ayah Bu Nia mulai berjualan sop konro di bawah tenda-tenda di Lapangan Karebosi. Setiap hari, ia mendorong gerobak dari rumah menuju lapangan, membuka lapak sederhana dengan panci kuah yang terus mengepul dan iga sapi yang sudah disiapkan dengan teliti. Usahanya sederhana dan terfokus. Ia adalah orang Makassar yang dibesarkan dengan nilai bahwa mengajar dan berdagang bisa menjadi bentuk pengabdian.
Pada 1976, keluarga mereka pindah dari lapangan ke lokasi permanen di Jalan Gunung Lopo Batang, sebuah langkah menuju kestabilan. Jakarta baru hadir dalam cerita perjalanan mereka jauh setelah itu, hampir tanpa rencana. Pada 1993, keluarga mereka datang ke ibu kota untuk sekadar berkunjung. “Jadi waktu itu kita cuma jalan-jalan saja di Jakarta,” Bu Nia mengenang. Saat melewati Kelapa Gading, mereka melihat potensi. Kawasannya sedang berkembang dan sudah banyak orang Makassar yang tinggal di sana. Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi keputusan untuk menyewa tempat, lalu menjadi komitmen jangka panjang.
Awalnya, yang dijual cuma sop konro. Seiring waktu berjalan, menu bertambah dengan konro bakar, ikan bakar, sop saudara, dan coto Makassar. Di antara semuanya, konro bakar perlahan menjadi favorit pelanggan. Cara membuatnya pun mengikuti resep keluarga yang diwariskan turun-temurun. Setelah iga dibakar, saus kacang disiramkan di atasnya. Sausnya meresap ke dalam daging, memberikan cita rasa yang dalam dan sentuhan manis yang melengkapi bumbu rempahnya.
Tantangan sempat muncul dalam hal bahan baku. Potongan daging yang umum di Makassar tidak selalu mudah ditemukan di Jakarta. Ada juga penyesuaian dari daging kerbau ke daging sapi karena ketersediaan. Bu Nia menceritakan perubahan tersebut tanpa nada keluhan atau nostalgia berlebihan.
Rasa dan perhatian terhadap detail itu dipelajari dari rumah. Ibunya meracik bumbu dan mengajarkan lewat pengulangan, bukan lewat buku resep. Takaran ditentukan dari rasa dan ingatan. “Ini pake ini, pake ini, pake ini,” ujar Bu Nia, mengingat bagaimana ia memperhatikan sampai akhirnya hafal di luar kepala.
Sop Konro Karebosi tetap menjadi bisnis keluarga. Bu Nia adalah satu dari sepuluh bersaudara, dan tanggung jawab dibagi bersama di berbagai lokasi. Kakak tertua membuka cabang di Bali dan Surabaya, sementara yang lain mengelola outlet di Kelapa Gading, Serpong, dan Bekasi. Keputusan diambil bersama, mengikuti prinsip yang ditanamkan oleh orang tua mereka. Semuanya dibagi rata, tidak ada yang merasa lebih berhak. “Harus sama-sama mendapatkan yang rata,” kata Bu Nia, mengingat nilai yang selalu ditekankan di rumah.
Kelapa Gading sendiri sudah banyak berubah sejak masa-masa awal itu. Saat restoran pertama kali dibuka di Jakarta, akhir pekan menghadirkan lonjakan jumlah pengunjung yang belum pernah mereka alami. Mereka sempat kewalahan menghadapi pesanan bungkus karena belum siap dengan kemasan yang memadai. Momen-momen kecil seperti itu masih diingat Bu Nia sebagai bagian dari proses belajar di kota yang bergerak cepat.
Ada juga hal-hal yang tidak berubah. Konro bakar tetap menjadi menu terlaris, yang terjual ratusan kilogram setiap minggu, bahkan lebih saat ramai. Ketika pandemi datang dan ruang makan harus ditutup, mereka beradaptasi dengan melayani pelanggan di mobil masing-masing. Staf dijadwalkan bergantian untuk mengurangi risiko. Masa itu berat, tapi restoran tetap bertahan.
Adapun hal yang membuat Sop Konro Karebosi terus hidup bukan cuma soal jumlah penjualan. Banyak pelanggan yang memperlakukan tempat ini layaknya bagian dari rumah mereka. Mereka datang beberapa kali seminggu, membawa keluarga, bahkan tidak segan memberi masukan. Setiap keluhan soal porsi atau rasa ditanggapi secara serius. “Kita berusaha untuk bagaimana konsumen itu puas,” ujar Bu Nia.
Kini, tanggung jawab menjaga restoran berada di tangan Bu Nia dan saudara-saudaranya. Nama Karebosi bukan sekadar nama, tapi terikat pada lapangan tempat semuanya bermula. Bagi Bu Nia, melanjutkan usaha ini bukan soal ekspansi besar-besaran, melainkan menjaga warisan orang tuanya agar tetap hidup.
Seperti puluhan tahun lalu, Sop Konro Karebosi masih dipenuhi pengunjung setiap akhir pekan; meja-meja cepat terisi dan pesanan mengalir dari dapur tanpa henti. Keluarga-keluarga berkumpul menikmati konro bakar dengan saus kacang yang meresap seperti dulu. Di Kelapa Gading, tempat ini bukan hanya patokan arah, tapi juga salah satu penopang kekuatan kuliner kawasan ini, tempat yang telah memberi makan generasi demi generasi dan ikut membentuk identitasnya.