Merawat Lewat Masakan dalam Sebuah Keluarga

Para pengunjung kota Jakarta akan mulai menyadari satu pola yang berulang pada papan nama warung makan: nama hidangan yang diikuti oleh deretan angka yang tampak acak. Dari Ayam Goreng 99 hingga Sate 77, kota ini membentuk peta alfanumerik di mana angka bisa merujuk pada nomor rumah, tanggal keberuntungan, atau nomor lapak lama; dan dalam beberapa kasus, angka itu tidak lagi berarti apa-apa sama sekali.

Namun di Pangsit Mie & Lemper Ayam Special 168 di Kelapa Gading, angka-angka tersebut memikul makna yang jauh lebih spesifik—sebuah harapan akan masa depan yang lebih cerah. Sang pemilik, Andre Tedjakusuma, menjelaskan bahwa nama ini berakar pada filosofi Tionghoa tertentu, dengan bunyi angka yang dibaca sebagai liù yī fā, yang secara longgar dimaknai sebagai jalan menuju kebahagiaan.

Ko Andre sendiri, pada pandangan pertama, tidak menampilkan persona energik yang kerap diasosiasikan dengan para pengusaha kuliner. Ia berbicara dengan nada lembut, suaranya pelan hingga membuat lawan bicara harus sedikit mendekat untuk mendengarkan. Namun tanyakan tentang Surabaya, dan sikapnya berubah: matanya menyala dengan kejernihan yang tiba-tiba, dan posturnya kehilangan kesan canggung yang tadi melekat. Di momen-momen inilah terlihat jelas bahwa ia adalah penjaga sebuah warisan yang dimulai jauh sebelum dirinya tiba di lingkungan ini.

Usaha ini pertama kali berakar di Surabaya sekitar tahun 2000, di bawah tangan orang tuanya. Selama lebih dari satu dekade, kedua orang tuanya mencurahkan tenaga dan perhatian ke dalam usaha tersebut, sementara Ko Andre menyaksikan bagaimana mereka membangun reputasi akan konsistensi—sebuah kualitas yang pada akhirnya mengubah kedai sederhana itu menjadi tujuan bagi warga lokal maupun pelancong.

Semangkuk mie andalan mereka menjadi jangkar yang mengenyangkan bagi siapa pun yang mencari makanan berat dan memuaskan, dengan racikan topping kompleks berupa ayam cincang gurih, udang, jamur, serta tambahan tak terduga berupa kacang mede yang renyah. Sementara itu, varian lemper menawarkan camilan klasik bagi pejalan yang sekadar lewat—meski ukurannya menantang definisi “camilan ringan”. 

Lemper menjadi pilar lain dari usaha ini, sekaligus contoh paling nyata dari filosofi kelimpahan yang dipegang keluarga Ko Andre. Di kota di mana camilan kerap diperkecil demi efisiensi margin, lemper buatan Ko Andre justru tampil besar dan berani. Nasi ketannya diisi ayam dalam jumlah melimpah, memastikan isi sama dominannya dengan butiran berasnya. Komitmen terhadap skala ini mencerminkan keramahan khas Jawa Timur yang menempatkan kepuasan tamu di atas optimalisasi biaya semata.

Justru camilan tradisional yang tampak sederhana inilah yang mengubah segalanya bagi keluarga tersebut. Lemper mereka sudah lama melakukan perjalanan lintas kota sebagai oleh-oleh incaran. “Waktu awal di Surabaya itu juga banyak orang dari Jakarta bawa lemper kita buat oleh-oleh,” kenangnya. Dari sanalah benih pertama ekspansi antarpulau mulai tumbuh.

Namun lebih dari sekadar pengembangan usaha, kepindahan ini berarti mencabut dan menanam ulang seluruh hidupnya. Ko Andre melihat Kelapa Gading sebagai kawasan kuliner yang menjanjikan, tetapi keputusannya didorong oleh alasan yang lebih domestik. Ia ingin membawa keluarganya ke tempat yang terasa berkelanjutan untuk masa depan jangka panjang. “Saya rasa Kelapa Gading juga nyaman buat keluarga untuk tinggal,” jelasnya. Ia memilih menanam akar di tanah yang sama tempat ia menjual mie. Pilihan ini menghapus jarak antara kebahagiaan pribadi dan kesuksesan profesional, menjadikan kedai tersebut perpanjangan langsung dari rumahnya sendiri.

Kesuksesan di Jakarta menuntut kesediaan untuk mendengarkan gesekan antara dua budaya kuliner yang berbeda. Ko Andre segera menyadari bahwa selera Surabaya dan Jakarta tidak selalu sejalan. Di Surabaya, mie yang lembut dan mudah putus lebih disukai. Namun saat membuka usaha di Kelapa Gading, gaya tradisional ini ternyata kurang menggugah selera pelanggan lokal. “Setelah kita review, kayaknya itu kurang bisa diterima untuk konsumen di Jakarta,” ujarnya. Ia dihadapkan pada tugas sulit: memodifikasi resep keluarga tanpa menghilangkan jiwanya. Ko Andre menghabiskan waktu untuk menyempurnakan adonan demi mendapatkan tekstur yang lebih kenyal dan berdaya tahan. “Kita coba untuk cari yang improve agar teksturnya lebih chewy,” katanya. Ia mencari titik temu di mana rasa Surabaya dapat bertahan dalam tuntutan tekstur khas Jakarta.

Pendekatan Ko Andre terhadap masakan-masakan ini dipengaruhi oleh latar belakang profesional yang mungkin tak terduga. Ia bukan lulusan sekolah kuliner, melainkan bidang yang lebih dekat dengan dunia medis: farmasi. Peralihan dari farmasi ke industri makanan tampak drastis, tetapi Ko Andre melihat benang merah yang jelas di antara keduanya. Ia menggunakan kata meracik untuk menggambarkan kedua peran tersebut. Di matanya, seorang apoteker yang meracik obat dan seorang juru masak yang menyiapkan semangkuk mie menjalankan tugas fundamental yang sama: mengikuti formula dengan ketelitian mutlak demi kesejahteraan orang lain. Disiplin farmasi ini terwujud di dapur, di mana konsistensi menjadi bentuk penghormatan kepada pelanggan.

Ada ironi puitis dalam transisi Ko Andre dari apotek ke dapur. Di kehidupan sebelumnya, ia membagikan obat untuk menyembuhkan orang sakit, bekerja dengan bahan kimia yang menuntut presisi steril. Kini, laboratoriumnya adalah sebuah ruko di Kelapa Gading, dan ramuan-ramuannya berupa kaldu gurih serta minyak berbumbu. Namun misi intinya tetap tak berubah. Menyaksikannya bekerja serasa melihat seorang pria yang masih menjalankan profesi lamanya: meracik elemen-elemen dengan penuh kehati-hatian demi menghadirkan rasa nyaman.

Saat menatap masa depan Pangsit Mie & Lemper Ayam Special 168, harapannya tetap sederhana dan tulus, sama seperti sapaannya. Ia ingin usahanya terus bertumbuh perlahan, menjadi bagian permanen dari kehidupan warga Kelapa Gading. 



Jalan yang dengan sengaja dipilih keluarganya—jalan 168, atau liù yī fā—ternyata terhampar oleh ribuan lemper yang dibungkus dengan tangan. Meski ia masih berbicara dengan nada lembut seorang pria yang lebih nyaman berada di balik layar, karyanya berbicara dengan volume yang jauh lebih besar. Setiap hidangan yang ia sajikan adalah dosis sejarah keluarganya, sebuah resep penyembuh rasa lapar yang diracik dengan cermat, dan bukti dari mata seorang apoteker yang berbinar—yang menemukan bahwa terkadang, cara terbaik untuk merawat orang lain adalah dengan memberi mereka makan dengan sepenuh hati.

Discover Other Stories