Beberapa keluarga membeli properti; yang lain berinvestasi di reksa dana. Namun, orang tua Chris Samuel justru menjual mobil, melepas semua aset, dan bertaruh habis-habisan demi membuka usaha keluarga berupa kedai kwetiau di Kelapa Gading—sebuah kawasan tempat dunia kuliner bisa berubah secepat lampu lalu lintas. Di sini, bahkan kedai yang dicintai banyak orang bisa hilang dalam semalam, tersapu oleh persaingan yang sangat ketat untuk bisa membangun atau menghancurkan reputasi hanya dalam hitungan minggu. Membuka bisnis makanan baru di Kelapa Gading adalah bentuk optimisme keras kepala yang hanya segelintir orang berani pertaruhkan.
Usaha yang dimaksud adalah cabang Kelapa Gading dari Kwetiau Akang, yang kedai pertamanya didirikan di Medan oleh kakek Ko Chris, Akang. Kedai ini berdiri pada 1960, dibangun dari resep yang diwariskan oleh buyutnya, seorang perantau dari Tiongkok. Dalam ingatan Ko Chris, kakeknya adalah seorang petarung—sosok yang menjaga keahliannya, keluarganya, dan integritasnya dengan kegigihan yang sama. Semasa kecil di Medan, Ko Chris ingat sesekali diajak naik becak oleh sang kakek, sebuah momen kecil yang kontras dengan sifat kakeknya yang terkenal tegas dan tak kenal kompromi.
Meskipun kedai pertama di Medan tidak besar, Ko Chris tersenyum saat mengingat suasana yang membentuk kedekatan dalam keluarga dan hidangan mereka. “Kita benar-benar menikmati suasana kebersamaan yang waktu itu masih intim, masih erat,” katanya. Di rumah itulah Kakek Akang menyajikan sepiring demi sepiring Kwetiau Medan andalannya—kwetiau kenyal dengan aroma wok hei yang disajikan dengan kombinasi daging sapi, udang, dan lap cheong.
Ketekunan kakeknya itulah yang menjadi motor untuk selalu mengejar yang terbaik. “Kalau bisa jadi yang terbaik, kenapa harus ambil posisi kedua?” ujar Ko Chris, menggambarkan etos kerja sang kakek.
Saat aroma wok hei dari dapur sang kakek mulai “tercium” hingga Jakarta, tantenya pun membuka cabang di Muara Karang pada pertengahan 1990-an. Beberapa tahun kemudian, orang tua Ko Chris menjual semua yang mereka miliki demi membuka cabang Kelapa Gading pada 1997. Hal tersebut adalah lompatan besar di kawasan yang kala itu masih lebih mirip proyek pembangunan daripada permukiman: sawah, jalan setengah jadi, dan penduduk yang belum sepenuhnya menetap.
Namun, baru saja usaha itu mulai menemukan pijakan, kerusuhan 1998 terjadi. Ko Chris masih ingat rasa takut di jalan dan trotoar yang sepi, tetapi ia juga ingat kehangatan tak terduga yang muncul dari situasi itu. “Saya baru tahu tetangga saya siapa,” katanya. Dalam ketidakpastian bersama, orang saling menjaga.
Suatu pagi, seluruh staf restoran menghilang karena ketakutan, sementara keluarga itu tak punya pilihan selain menjalankan semua hal sendiri. Chris baru berusia 14 tahun, sementara adiknya 9 tahun—dan tiba-tiba mereka harus mengambil peran yang jauh lebih besar dari usia mereka. “Dia naik kursi, dia cuci piring, saya bagian bikin minum,” katanya sambil tertawa mengingat tangan-tangan kecil mereka bekerja layaknya orang dewasa. Mereka mencuci piring, mengupas udang, membersihkan taoge—apa pun dilakukan agar pintu kedai tetap terbuka.
Setelah masa tersulit berlalu, keluarga itu kembali menemukan pijakan. Ketika situasi sosial-ekonomi mulai stabil, pelanggan datang lagi dalam jumlah besar, didukung oleh perkembangan pesat lingkungan sekitar. Namun, pelajaran dari masa-masa kacau itu tak pernah mereka lupakan. Sampai hari ini, orang tua Chris masih terlibat langsung—mencicipi sambal dan mengatur keseimbangan kecap.
“Yang paling membanggakan,” ujar Chris, “adalah saya melihat sendiri bagaimana kedua orang tua saya itu struggling.” Namun, kebanggaan itu datang bersama tanggung jawabnya sendiri. Ko Chris mengakui bahwa menjaga bisnis keluarga bisa terasa berat, tapi baginya itu adalah tantangan, bukan beban. “Kita ini harus better, harus improve,” katanya. Di bawah kepemimpinan Chris dan adiknya, Kwetiau Akang kini berkembang di Jabodetabek dan Surabaya. Generasi keempat bahkan mulai membantu, dengan sepupu-sepupunya yang sudah belajar mengelola cabang di PIK.
Banyak orang bertanya soal peluang waralaba, tetapi untuk saat ini keluarga memilih ingin tetap memegang kendali. Ko Chris menyebutkan prinsip yang diturunkan orang tuanya sebagai kuncinya. “Urutan nomor satu itu adalah love,” ujarnya. Uang tentu saja penting, tetapi itu tidak menghasilkan ketulusan. Tidak ada perhitungan siapa yang bekerja paling lama atau siapa yang mengambil alih pekerjaan paling berat; sejak awal, bukan itu intinya. “We work for us all,” katanya.
Ko Chris tidak pernah dipaksa untuk meneruskan bisnis keluarga. Justru ia didorong untuk mengejar karier yang dianggap lebih prestisius. Namun, hidup membawanya kembali ke dapur tempat ia dulu harus berdiri berjinjit agar bisa mencapai meja kerja. Kini, sebagai seorang ayah, ia memberikan kebebasan yang sama kepada anak-anaknya. “Pilih perjalanan kalian sendiri,” katanya. Jika suatu hari mereka memilih jalan ini, kapal sudah siap. Tapi ia ingin mereka menempa tantangan mereka sendiri dulu.
Bagi Ko Chris, cita-cita untuk masa depan Kwetiau Akang sederhana: menjaga sebuah memori. “Kwetiau Akang itu bukan hanya menjual produk. Kwetiau Akang itu menjual sebuah memori,” ujarnya. Ia bangga mengetahui bahwa beberapa keluarga lintas generasi sudah makan di sana, semuanya dari resep yang sama yang dulu dijaga ketat oleh kakeknya.
“After I'm done, saya mau memori itu enggak hilang,” katanya sambil tersenyum. Entah diteruskan oleh anak-anaknya atau oleh para pelanggan yang tumbuh besar bersama aroma wok hei-nya, ia berharap memori itu tetap hidup—memori tentang ketekunan, tentang keluarga, juga tentang semangkuk kwetiau yang telah melewati kota, krisis, dan generasi tanpa pernah kehilangan jiwanya. Dan jika pembukaan cabang Kelapa Gading adalah taruhan terbesar yang pernah diambil oleh orang tuanya, maka inilah taruhannya sendiri: harapan yang tidak diletakkan pada skala atau keuntungan, tetapi pada sesuatu yang jauh lebih rapuh—dan jauh lebih abadi.