Kopi Yang Membawa Rasa Rumah

Pada 2015, jauh sebelum latte art memenuhi Instagram dan istilah specialty coffee menjadi hal yang lumrah di Jakarta, sebuah kafe kecil membuka pintunya di sudut tenang Kelapa Gading. Kafe itu diberi nama Six Ounces—sebuah nama yang bersifat teknis sekaligus personal, sebagai penghormatan pada apa yang diyakini pendirinya, Ariel Giovanni, bahwa 6 ons adalah takaran yang paling sempurna dan seimbang untuk secangkir kopi.

Six Ounces dimulai sebagai interpretasi budaya kafe Australia yang disaring melalui sensitivitas Indonesia. Ariel, yang berlatar belakang akuntansi, menghabiskan beberapa tahun di Sydney dan jatuh cinta pada kehidupan santai dan hangat di kafe sebelum kembali ke Tanah Air. 

Seperti Ariel, manajer area Andre Sebastian juga tidak memiliki pelatihan formal di bidang F&B. Ia lulusan komunikasi dan baru bergabung dengan Six Ounces setelah lima tahun membantu menjalankan bisnis F&B milik saudaranya. Keduanya adalah penduduk asli Kelapa Gading, berteman dalam satu lingkaran pemilik restoran dan pengusaha F&B, serta sama-sama menemukan jalan ke dunia kopi melalui rasa ingin tahu, bukan lewat ijazah.

Perpaduan budaya ini tecermin jelas pada desain dan suasana kafe. Pencahayaan hangat dan lembut yang memantul di permukaan kayu alami menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersahabat, berbeda dengan gaya brutalis atau industri yang umum di kafe lain saat itu. Setiap detail dipilih untuk membuat pengunjung merasa rileks. Menurut Andre, tujuan utamanya sederhana: membuat Six Ounces terasa seperti rumah kedua bagi setiap orang yang datang.

Di lingkungan yang sibuk dengan pelayanan yang sering terasa terburu-buru atau transaksional, Six Ounces membangun identitasnya melalui interaksi manusia yang hangat dan tulus. Penekanan pada koneksi ini bukan kebetulan; ini adalah standard operating procedure yang tidak bisa diabaikan dan dimulai sejak pelanggan memasuki kafe. Andre menjelaskan bahwa setiap pelanggan disambut dengan antusiasme tulus dari barista yang tersenyum. Protokol ini mencegah pelanggan merasa diabaikan. "Kalau masuk enggak disambut, gimana lo mau menjadikan tempat ini sebagai tempat yang homey?" katanya.

Andre juga mendorong koneksi personal ini di antara stafnya, mendorong barista untuk berinteraksi lebih dari sekadar menyajikan kopi. “Saya selalu challenge my barista,” katanya. Ia ingin mereka berinteraksi sedemikian rupa sehingga pelanggan merasa dikenal dan diingat—bahkan sampai pelanggan rutin dengan bangga mengenalkan teman mereka dengan nama, sambil berkata, “Eh, yuk ke Six Ounces. Gue kenalnya sama baristanya.”

Pendekatan kafe terhadap kopinya mencerminkan filosofi yang sama: sederhana tapi terasah. Di Six Ounces, setiap cangkir diseduh dengan penuh perhatian untuk memperkenalkan kualitas tanpa kesan sombong. “Pertama kali merintis, yang pasti memperkenalkan si kopi itu si Ariel sendiri,”  Andre mengenang. Di masa awal, Ariel berbicara langsung dengan setiap pelanggan, menjelaskan asal-usul biji kopi, catatan rasa, dan nuansa dalam proses penyeduhan. Percakapan ini mengubah kunjungan kopi biasa menjadi pelajaran kecil tentang cita rasa, mengajak pelanggan meluangkan waktu dan benar-benar menghargai cangkir di hadapan mereka.

Sentuhan personal yang sama tetap ada di setiap cabang Six Ounces di Jakarta. Barista membimbing, bercakap, dan membagikan pengetahuan mereka kepada pelanggan, juga berusaha mengingat nama dan selera mereka sebisa mungkin. Ketika seseorang memesan house blend atau mencoba biji kopi fruity untuk pertama kali, interaksinya terasa sengaja dan penuh perhatian. Andre melihat hal ini sebagai inti dari apa yang membuat Six Ounces lebih dari sekadar kafe, tapi juga tempat yang membuat setiap kunjungan membangun rasa memiliki.

Sikap inklusif ini melampaui kafe itu sendiri. Andre melihat naiknya kedai kopi susu sederhana bukan sebagai kompetisi, melainkan sebagai cara bagi pelanggan untuk memahami spektrum kopi: mana yang lebih bermain-main dan mana yang merupakan seduhan serius. Andre juga menekankan bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk minum kopi. Bagi mereka yang ingin menikmati biji kopi sepenuhnya, ia menganjurkan untuk tidak menambahkan gula, meski ia juga menghargai pilihan orang yang menyukai kopi manis.



Namun, komitmen terhadap koneksi ini diuji saat pandemi. Ketika semua kafe ditutup dan interaksi tatap muka hilang, Six Ounces harus beradaptasi sambil tetap mempertahankan kehangatan. “Tiba-tiba enggak ada interaksi sama sekali. Dan kita masih berjuang saat COVID,” Andre mengenang. Bahkan, tanpa kontak langsung, tim terus menyajikan kopi dengan penuh perhatian, menemukan cara untuk mempertahankan sentuhan manusia yang menjadi ciri khas merek ini.

Kini, Six Ounces telah berkembang menjadi tiga cabang, namun kafe asli di Kelapa Gading tetap menjadi jantung dari Six Ounces. Saat masuk ke Six Ounces, hal-hal kecil langsung terasa: sambutan ramah di pintu, wajah-wajah yang akrab di balik konter, juga cahaya yang menimpa meja kayu. Semua ini menyatu dalam sensasi yang digambarkan Andre: “Gue mau mereka berasa, 'Oh, nyaman, ya. Feels like home’.”

Discover Other Stories