Keinginan untuk mendapatkan lebih tentu merupakan hal yang sangat manusiawi. Sejarah pun sejak lama rajin mencatat siapa yang menjadi yang pertama dan siapa yang menjadi yang terbesar: kekaisaran dengan wilayah terluas, peraih medali emas Olimpiade terbanyak, hingga musisi dengan penjualan rekaman tertinggi.
Dunia F&B pun tak jauh berbeda. Para pemilik usaha bermimpi membawa bisnis mereka ke jenjang berikutnya, entah dengan memperluas menu, berkolaborasi dengan figur publik, atau membuka lebih banyak cabang—bahkan mewaralabakan resep dan merek mereka kepada mitra bisnis di luar keluarga.
Jika ada kesempatan, kebanyakan pemilik usaha tentu akan mengambil risiko yang sudah diperhitungkan demi memperluas jangkauan bisnisnya. Namun, bagi duo ibu dan anak yang telah puluhan tahun bekerja berdampingan di warung bakmi kecil mereka di Kelapa Gading, memperbesar usaha justru menjadi salah satu hal yang paling jauh dari rencana bisnis mereka.
Di teras sebuah rumah di Jl. Kelapa Hybrida, Bu Lisa dan sang ibu menyajikan semangkuk mi ayam yang kenyal dan gurih di Mie Cerewet. Dengan nama seperti itu, kebanyakan pelanggan mungkin membayangkan akan disambut oleh sepasang pemilik yang galak, tegas, atau bahkan pemarah.
Kenyataannya jauh dari kesan tersebut. Bu Lisa maupun ibunya hanya lugas ketika mengingatkan food blogger yang datang tanpa pemberitahuan bahwa mereka terlalu sibuk bekerja untuk menjawab pertanyaan tentang makanan mereka. Sikap singkat mereka bukan soal temperamen, melainkan efisiensi. Ketika orang sudah mengantre untuk semangkuk bakmi, basa-basi memang bukan pilihan.
Namun, temui mereka setelah mangkuk-mangkuk telah kosong dan dapur kembali bersih, dan sisi lain keduanya akan muncul. Bu Lisa bergerak dengan urgensi yang sama seperti saat melayani pelanggan, tetapi gerak-geriknya yang serbacepat menyembunyikan selera humor yang tinggi. Nada bicaranya yang terdengar tegas bagi telinga yang belum terbiasa ternyata diselingi candaan, dan senyumnya pun mudah merekah. Ibunya sendiri terus menyapu, mengelap, dan merapikan dapur terbuka yang sebenarnya sudah sangat bersih.
Keduanya tampaknya memang tidak terlalu tertarik untuk duduk diam, apalagi membesar-besarkan apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka, cukup menjual 30 mangkuk bakmi, beres-beres, lalu mengulanginya lagi esok hari.
“Bersyukur itu 30 mangkuk udah habis,” kata Bu Lisa.
Jumlah yang terbilang sedikit itu sebagian disebabkan oleh jam operasional Mie Cerewet yang terbatas. Mereka tidak punya ambisi untuk menjadikan Mie Cerewet sebuah jaringan restoran, juga tidak terlalu tertarik memaksimalkan setiap jam dalam sehari.
Keluarga ini pertama kali berjualan bakmi dari sebuah rumah di Bungur, Jakarta Pusat. Setelah rumah tersebut dijual, mereka pindah ke Kelapa Gading sekitar awal 1990-an, ketika kawasan ini masih jauh dari pusat komersial padat seperti sekarang.
“Sepi, masih sepi banget sini. Sampai banyak nyamuk,” kenang Bu Lisa.
Bagi Bu Lisa, yang terpenting adalah memastikan bahan-bahan yang digunakan selalu segar. Ia membuat mi sendiri setelah mempelajari tekniknya secara formal, lalu bereksperimen dan mengasah kemampuannya bersama seorang pakar mi. Ia bahkan merancang sendiri peralatannya agar seluruh proses produksi tetap dilakukan secara mandiri.
“Kita lebih bagus bikin sendiri aja, lah. Daripada ngambil punya orang, nggak fresh. Kalau ini kan fresh, kita tahu sendiri.”
Kepraktisan yang sama juga diterapkan dalam menjalankan usaha. Mie Cerewet tidak menerima titipan produk dari orang lain; dengan jam operasional yang terbatas, barang yang tidak terjual hanya akan berakhir mubazir. Itulah kenapa mereka membuat porsi secukupnya, menjualnya, lalu menutup warung untuk bersiap menghadapi hari berikutnya.
Mungkin justru karena efisiensi itulah nama “Mie Cerewet” terasa begitu meleset. Namun, ketika ditanya apakah mereka memang cerewet, Bu Lisa tertawa.
“Pasti, lah. Apalagi customer, cerewet juga,” katanya sambil terkekeh.
Ketika ditanya siapa yang lebih cerewet, ia tidak menunjuk ibunya.
“Dua-duanya sama,” katanya bersenyum.
Kedekatan keluarga ini juga terlihat dari cara Mie Cerewet memperluas jangkauannya. Pelanggan setia yang kini tinggal di luar negeri masih merindukan bakmi yang mereka santap sejak dulu, sehingga Bu Lisa mulai menjual versi bekunya agar mereka tetap bisa menikmatinya dari jauh.
Inilah bentuk ekspansi paling jauh yang pernah dilakukan Mie Cerewet. Alih-alih membuka cabang baru, bisnis ini menemukan cara agar bakminya bisa menjangkau pelanggan yang lebih jauh tanpa mengharuskan Bu Lisa dan ibunya ikut pergi ke mana-mana.
Apakah Mie Cerewet akan terus berjalan setelah Bu Lisa dan ibunya tak lagi mengurusnya, masih menjadi pertanyaan. Bisnis ini masih milik ibunya, dan Bu Lisa sendiri belum tahu siapa yang kelak akan meneruskannya. Namun, ketidakpastian itu terasa pas untuk sebuah usaha yang sejak awal tidak tertarik mengejar pencapaian berikutnya.
Jika diukur dengan standar keberhasilan bisnis bakmi pada umumnya, Mie Cerewet mungkin tidak terlihat terlalu ambisius. Namun, selama puluhan tahun menjalankan usaha dengan cara mereka sendiri, Bu Lisa dan ibunya dengan keras kepala membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus berarti lebih banyak mangkuk, pelanggan, atau cabang. Bagi mereka, 30 mangkuk pun sudah cukup.
“Makanya harus bersyukur, ya. Harus happy lah,” kata Bu Lisa sambil kembali menyunggingkan senyum lebarnya. “Semua usaha harus dijalankan dengan happy.”