Kota sebesar Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti sif. Dengan lebih dari 11 juta jiwa yang mendiami kawasan Ibu Kota, selalu ada perut yang keroncongan saat malam tiba. Di Kelapa Gading, hasrat untuk mencari santapan larut malam sama besarnya. Meski bakmi lazimnya diidentikkan dengan sarapan atau makan siang, tak sedikit penikmat kuliner yang tetap memburu sepiring mi hingga jauh melintasi tengah malam.
Di sepanjang Jalan Kelapa Hybrida, Ko Chandera siap menyambut hangat kehadiran mereka. Saat meja-meja mulai ditata di atas trotoar di depan sebuah bengkel mobil yang sudah tutup, denting peralatan makan melebur dengan lalu lalang kendaraan dan desis minyak panas yang menyengat wajan. Sejak 2009, Ko Chandera telah berdiri di balik kompor Bakmi Popo, sebuah kedai tenda yang dinamai demi menghormati sang nenek. Popo adalah sapaan akrab berunsur bahasa Hokkien untuk nenek, sebuah nama yang mencerminkan sosok yang resep masakan rumahannya terus membingkai sajian kedai ini hingga sekarang. Sebagian besar menu bermula dari dapur sang nenek, yang diwariskan kepada Ko Chandera lewat ketekunan selama bertahun-tahun dan seperti yang ia kenang proses trial and error yang tidak sedikit.
“Walaupun semua resep itu kebanyakan dia yang lakukan dulunya. Tapi saya juga dites untuk meneruskan,” dia mengenang. “Di mana kita yang improve untuk nyamain masakan kayak Popo.”
Sang nenek sangat detail dan tegas soal urusan rasa. Untuk mendapatkan restunya, Ko Chandera harus mencoba berkali-kali hingga rasa masakannya mendekati cita rasa yang diingat sang Popo sebelum akhirnya dipercaya untuk meneruskan resep tersebut.
Salah satu sajian yang memiliki tempat istimewa bagi keluarganya adalah locupan mi berbahan dasar pati singkong atau tapioka yang kenyal dengan riwayat kuliner khas masyarakat Tionghoa Peranakan di Jawa Tengah. Sajian ini sudah menjadi hidangan favorit keluarga jauh sebelum menjelma sebagai salah satu menu andalan di Bakmi Popo. Disajikan dalam wujud Locupan Goreng, mi ini menawarkan alternatif segar bagi penikmat bakmi ataupun kwetiau, dengan tekstur padat kenyal yang sekilas menyerupai udon.
Menu signature lain yang tak kalah digemari adalah Bakmi Signature Plus, yaitu semangkuk bakmi dengan porsi mantap yang melimpah dengan topping daging babi cincang, ayam kampung, babi merah (char siu), pangsit, dan sayuran segar. Ko Chandera mendeskripsikan racikan Bakmi Popo sebagai gaya klasik khas Jakarta, dengan deretan menu yang dirancang dari cita rasa rumahan yang ingin ia bagikan kepada warga sekitar.
Pria yang berasal dari Lampung ini sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan atau bisnis F&B formal. Ia tadinya adalah seorang pekerja kantoran, tetapi kecintaan dan kecakapannya dalam memasaknya akhirnya memberanikan Ko Chandera untuk membuka Bakmi Popo.
“Kalau buka sih ya sebenarnya dari awal tentunya nggak langsung serta-merta kita punya langganan, mencari langganan dari satu mangkuk ke mangkuk lainnya,” ceritanya.
Sang istri, Ci Lia, beserta ketiga anak mereka Karina, Selin, dan Rafael turut bahu-membahu mengelola kedai ini. Sepulang sekolah dan kuliah, mereka langsung turun tangan membantu, mempelajari bisnis keluarga ini dari akar-akarnya: mulai belanja bahan baku segar, memotong daging, hingga memasak dan melayani pengunjung. Anak bungsu mereka, Rafael, bahkan menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Meski seharian berada di sekolah, ia selalu berkeras untuk menyempatkan diri datang ke kedai setiap malam. Kini, Rafael sudah lihai menangani pesanan pelanggan sendiri, memegang wajan berat yang panas dengan ketenangan layaknya juru masak profesional.
Bagi Ko Chandera, melibatkan anak-anaknya bukan sekadar perkara menjaga operasional kedai tetap berjalan. Ia ingin mereka memahami arti kerja keras dan mengerti proses di balik membangun sesuatu yang bernilai untuk diwariskan. Sama pentingnya, ia berharap anak-anaknya dapat meneruskan nilai-nilai kehidupan yang ia dan istrinya upayakan setiap hari.
“Mau hujan, mau segala sesuatu, kita lakukan bersama, menikmatinya bersama, tentunya mengembangkannya bersama,” dia menegaskan.
Filosfi kebersamaan tersebut tidak hanya berhenti di dalam lingkaran keluarga. Selama tiga tahun terakhir, keluarga ini membiasakan diri untuk berbagi makanan kepada orang-orang di sekitar lingkungan kedai yang membutuhkan. Para petugas pemilah sampah rutin datang ke kedai untuk mengambil paket makanan hangat. Dan ketika kedai tutup di pengujung malam, keluarga ini menyempatkan diri membagikan makanan kepada warga yang tidur di emperan toko dan tepi jalanan.
Ko Chandera berharap langkah kecil ini dapat menginspirasi para pelaku usaha kuliner lainnya untuk melakukan hal serupa. Bagi Ko Chandera, jika setiap tempat makan bersedia menyumbangkan beberapa bungkus saja, dampaknya akan berlipat ganda hingga ratusan perut dapat terisi. Menjalankan bisnis dan memberi dampak positif bagi masyarakat baginya bukanlah dua hal yang harus dipisahkan.
Kepedulian ini pun tumbuh alami dalam diri anak-anaknya. Suatu malam, seorang pelanggan berujar bahwa ia datang untuk merayakan ulang tahun anaknya yang baru genap berusia empat tahun. Tanpa diminta siapa pun, Rafael dan Karina diam-diam keluar pergi ke toko terdekat untuk membelikan anak kecil tersebut hadiah berupa cokelat dan permen. Kepekaan tersebut menyentuh hati Ko Chandera, terlebih karena dorongan itu datang murni dari inisiatif anak-anaknya sendiri.
“Menurut saya ada satu hal yang Tuhan kasih, tanamkan yang gak ada di sekolah, mau berbagi,” dia mengungkapkan. Bagi Ko Chandera, kepedulian adalah pelajaran hidup yang paling baik diserap lewat tindakan nyata, bukan sekadar nasihat lisan.
Di masa mendatang, Ko Chandera berharap bisa membawa Bakmi Popo berkembang keluar dari Kelapa Gading. Namun, untuk saat ini, keluarga kecil ini tetap menikmati kebersamaan mereka di balik meja racik dan wajan panas setiap malam. Rafael berdiri sigap di depan kompor, kakak-kakaknya cekatan menyiapkan pesanan, sementara Ci Lia menjaga kelancaran alur antara dapur dan meja pelanggan. Setelah bertahun-tahun berjuang merekonstruksi racikan sang nenek, Ko Chandera kini berada di posisi yang sama: merawat resep dan menurunkan tongkat estafet tersebut kepada anak-anaknya sendiri.
Harapannya, Bakmi Popo akan menjadi warisan berharga yang kelak dapat dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Resepnya boleh jadi bermula dari sang Popo, tetapi jalan cerita dan masa depannya berada di tangan anak-anaknya. Dan selama anak-anaknya terus melangkah dan hadir bersama di kedai setiap malam, Ko Chandera tahu bahwa warisan itu akan terus hidup.