Kalau bicara soal sarapan di Kelapa Gading, pilihannya nyaris tak ada habisnya. Kawasan ini bangun pagi, begitu juga selera makannya: kedai bubur, kedai kopi, hingga tempat makan cepat saji sudah siap bahkan sebelum matahari terbit. Namun, ketika seseorang mulai bingung memilih antara mi keriting, mi siram, nasi tim, atau nasi rames, ada satu titik di Boulevard Raya yang membuat keputusan itu justru terasa jauh lebih sulit. Di Bakmi Ernie, memilih satu saja hampir tidak pernah cukup.
Pintu toko dibuka sejak pukul 05.30 pagi, dan sering kali pelanggan sudah menunggu di luar. Ada yang sedang dalam perjalanan ke kantor, ada juga yang memang ingin memulai hari di sini. Pesanan bergerak cepat di jam-jam awal itu, dibungkus dan diserahkan ketika langit masih redup.
Bakmi Ernie menjadi bagian dari Kelapa Gading sejak 1992. Usaha ini dirintis oleh Erni Husin, yang berangkat dari kegemarannya memasak. Tidak ada latar belakang pendidikan formal di bidang kuliner, hanya kepekaan rasa dan keinginan untuk menyajikan hidangan masa kecilnya bersamanya kepada orang lain. Seiring waktu, hidangan-hidangan itu berkembang menjadi menu yang mencakup mi, aneka nasi, dan jajanan.
Menu pertama yang dijual adalah mi siram Medan, hidangan khas Sumatera Utara dengan mi kuning tebal yang disiram kuah kental. Kuahnya berbasis kaldu udang yang dimasak hingga mengental dan melekat pada mi, bukan sekadar menggenang di bawahnya. Disajikan dengan telur rebus, kentang, tahu goreng, udang, tauge, dan kerupuk merah, lalu disempurnakan dengan perasan jeruk nipis dan sambal cabai giling yang memberi keseimbangan pada rasa gurih dan manisnya.
Mi siram tetap menjadi salah satu menu utama, meski bukan sesuatu yang dimakan setiap hari oleh semua orang. Pada tahun-tahun awal, hal ini sempat menjadi tantangan. Mereka butuh pelanggan tetap, dan menu yang bervariasi adalah kuncinya. Maka kemudian bakmi dimasukkan ke menu. Disajikan dengan topping daging babi cincang, irisan char siu, dan kacang mete, menu ini dengan cepat mendapat tempat di hati pelanggan. Dari sana, pilihan terus berkembang—ada nasi tim, lontong sayur Medan, hingga berbagai menu harian lainnya.
Bagian dalam restoran ini mengikuti pola ruko khas Kelapa Gading. Area makan menghadap langsung ke jalan utama, terbuka dan sederhana. Dua etalase kaca berada di bagian depan: satu berisi gorengan dan jajanan pasar yang sering kali habis sebelum siang, sementara yang lain menampilkan aneka lauk ala warteg untuk nasi rames yang berganti setiap hari. Variasi ini membuat pelanggan bisa datang berulang kali tanpa merasa bosan.
Silvaria, generasi kedua yang kini mengelola bisnis ini, kembali ke Jakarta pada 2015 setelah beberapa tahun bekerja di luar negeri. Ia sempat menempuh pendidikan di bidang food technology, meski menurutnya hal itu tidak terlalu berperan langsung dalam operasional sehari-hari. Yang lebih penting adalah belajar mengelola tempat ini—mengatur karyawan, menjaga konsistensi rasa, dan menghadapi pelanggan.
Sosok sang ibu masih sangat terasa dalam keseharian restoran ini. Silvaria menggambarkannya sebagai orang yang tidak bisa diam, selalu bergerak di antara dapur dan ruang makan untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Selain itu, ia dikenal mudah bergaul; tipe orang yang bisa mengobrol dengan siapa saja dan membuat pengunjung baru menjadi pelanggan setia. Bisa jadi, kemampuan inilah yang ikut menjaga bisnis ini bertahan hingga sekarang.
Adapun Silvaria berbeda. Ia lebih tenang, berbicara pelan, tetapi jelas dalam mengambil keputusan. Ia belajar berinteraksi dengan pelanggan dengan mengamati ibunya—bagaimana membuka percakapan dan bagaimana menjaganya tetap hangat. Sementara ibunya mengisi ruangan dengan energi, Silvaria hadir dengan cara yang lebih tenang. Namun, ketika perlu bersikap tegas, ia tidak ragu. “Kalau lagi kerja, saya serius,” ujarnya.
Hal itu juga terlihat pada hubungannya dengan para karyawan. Banyak dari mereka yang sudah bekerja di sini bertahun-tahun, cukup lama untuk melihat Silvaria tumbuh besar, sementara mereka membangun kehidupan masing-masing. Jarak antara pemilik dan karyawan terasa tipis; ada candaan, kenangan bersama, dan obrolan ringan yang menunjukkan kedekatan.
Pelanggan menjadi bagian lain yang tak terpisahkan. Banyak yang sudah datang sejak muda dan kini kembali bersama anak-anak mereka. Ada juga yang sudah pindah dari Jakarta, tapi tetap menyempatkan diri mampir saat berkunjung. Sebagian lagi datang hampir setiap pagi, bahkan menunggu sebelum pintu dibuka. “Begitu nyalain lampu, mereka turun,” kata Silvaria, menggambarkan mobil-mobil yang terparkir sejak dini hari.
Pandemi sempat menghentikan semuanya. Restoran ini tutup selama beberapa bulan pada 2020, lalu kembali tutup saat gelombang berikutnya. Para karyawan dipulangkan demi keamanan. Saat buka kembali, layanan dimulai dengan take away dan delivery sebelum makan di tempat diperbolehkan lagi. Masa itu tidak mudah, diwarnai ketidakpastian dan kekhawatiran terhadap para karyawan.
Seiring waktu berjalan, permintaan meluas hingga ke luar Jakarta. Didorong oleh teman dan pelanggan setia, keluarga ini membuka cabang di Bali. Menu di sana lebih ringkas: berfokus pada mi dan hidangan nasi. Sementara itu, resto di Kelapa Gading tetap menjadi pusat dengan pilihan yang lebih lengkap.
Responsnya sejauh ini cukup baik. Sebagian pelanggan di Bali sudah mengenal rasanya dan datang mencarinya. Yang lain datang karena penasaran, lalu kembali lagi. Toko di Jakarta berjalan seperti biasa, sementara cabang di Bali perlahan menemukan bentuk sendiri. Namun, bagi sebuah usaha yang selama puluhan tahun bertahan di satu tempat dengan cara yang sama, langkah ekspansi ini bukan hal kecil. Ada kepercayaan bahwa apa yang dibangun selama ini bisa bertahan di tempat baru.
Sementara itu, di Boulevard Raya, toko yang lama kembali buka keesokan paginya pukul 05.30, seperti biasa. Cabang di Bali mungkin menandai babak baru—tapi di Kelapa Gading, kompor sudah kembali menyala, seperti yang selalu terjadi setiap pagi.