Cita Rasa yang Ikut Pindah ke Kelapa Gading

Bagi orang yang berkecimpung di dunia kuliner, loyalitas pelanggan adalah mata uang yang tidak bisa dibeli dengan diskon atau trik pemasaran apa pun. Di Kelapa Gading, tempat seluruh deretan ruko bersaing untuk mengklaim gelar bakmi favorit di lingkungan tersebut, loyalitas bahkan lebih sulit didapatkan.

Itulah yang membuat Bakmi Copin terasa berbeda. Sejak awal 2000-an, ketika keluarga ini memindahkan usaha mereka dari Bandengan, Tambora, ke Kelapa Gading, para pelanggan setia ikut serta dengan pengabdian yang jarang ditemui. Ada yang rela menempuh perjalanan jauh hanya demi semangkuk bakmi gurih andalan mereka. “Ada customer dari Cibubur yang datang jauh-jauh hanya untuk makan bakmi kami,” kata Ci Limey, yang kini mengelola kedai ini bersama suaminya, Ko Irwan. Ada pula yang pertama kali mengenal bakmi ini saat pertama kali buka pada tahun 1973, dan kini kembali bersama anak-anak mereka.

Kisahnya berawal dari ayah Ci Limey, Om Copin. Ia punya keterampilan memasak yang begitu alami sampai orang-orang mengatakan ia memiliki tangan emas. Apa pun yang dimasaknya selalu terasa enak. “Kalau si Papa sih memang ada tangannya, bakat dagang ya,” Ko Irwan mengenang. “Ibaratnya emang bikin apa, masak apa juga enak.”

Pada 1973, Om Copin memutuskan menyalurkan bakat itu lewat sebuah gerobak bakmi di Bandengan. Ia mengecat namanya begitu saja di papan kayu gerobak, dan begitulah bisnisnya dimulai. Setiap pagi sebelum subuh, Om Copin menguleni bakmi dengan tangan dan merebus kuah kaldu ayam yang bening dan harum. Ia menjajakan bakmi di kawasan Bandengan Utara, dengan pelanggan setia yang kembali karena tekstur mi buatannya yang kenyal dan rasa gurih yang khas.

Hampir tiga dekade Om Copin berjualan dengan cara ini, melayani pelanggan tetap ataupun orang yang kebetulan lewat. Hingga pada 2002, ketika banyak pelanggan pindah ke arah timur, keluarga memutuskan membuka kedai permanen di Kelapa Gading. Awalnya bisnis berjalan lambat—mereka bahkan sempat berjualan dari bagasi mobil pada pagi hari. Namun, kabar tersebar dari mulut ke mulut, dan tak lama kemudian ruko kecil di Jalan Kelapa Hybrida itu menjadi langganan tetap warga sekitar.

Kini, Ci Limey dan Ko Irwan menjalankan kedai bersama. Keduanya pertama kali bertemu di gereja, saat Ko Irwan melihatnya dan berpikir, “Lihat ini cewek kok manis banget kayak orang Jepang ya,” ujarnya sambil tersenyum. Celetukan itu dibalas dengan cubitan manja dari sang istri. Dari interaksi kecil ini saja terlihat jelas bagaimana mereka membawa keceriaan dan kehangatan dalam setiap hal yang mereka lakukan.

Sejak awal, hubungan mereka sudah serius, begitu pula soal keputusan untuk melanjutkan bisnis keluarga. Ci Limey dulunya bekerja di kantor, sementara Ko Irwan di bidang keuangan, tanpa latar belakang dunia kuliner sama sekali. Saat Om Copin mulai lelah, ia mengingatkan bahwa lebih baik menjadi pengusaha daripada karyawan, bahkan sampai menghitungkan angka-angkanya untuk menunjukkan bahwa usaha ini layak diteruskan. Menurut dia, terlalu sayang jika bisnis ini dibiarkan berhenti.

Kedainya sederhana, tersembunyi di dalam ruko biasa dengan gerobak hijau terang yang diposisikan di depan sebagai pengingat awal mula mereka berjualan di jalanan dengan gerobak. Di balik teras yang sejuk berangin, ruangan ber-AC menampung keluarga-keluarga yang datang setiap akhir pekan untuk menjalani ritual bakmi mereka.

Setiap mangkuk disajikan dengan standar yang sama. Pangsitnya datang mengepul hangat, kulit tipis transparan membungkus isi daging babi cincang yang melimpah. Minyak kenyal dengan tingkat kekenyalan yang pas serta menyerap kuah dan bumbu yang gurih sekaligus harum. Di atasnya, potongan ayam kampung, babi, atau jamur disajikan dengan porsi yang murah hati sehingga setiap hidangan terasa lengkap.

Bagi Ko Irwan dan Ci Limey, pekerjaan dimulai jauh sebelum pelanggan datang. Mereka sudah bangun jauh sebelum matahari terbit untuk menyiapkan segala sesuatu dari nol karena tak mau menyajikan bakmi yang tidak segar. “Jam setengah tiga pagi saya udah bangun. Kalau bakmi saya enggak fresh, saya enggak suka,” kata Ko Irwan. 



Seiring waktu berjalan, pasangan ini menambahkan sentuhan mereka sendiri, mulai dari topping daging babi merah dan jamur hingga membuka cabang di PIK 2. Namun, inti dari Bakmi Copin tidak pernah bergeser. Para pelanggan yang dulu rela antre di gerobak Bandengan kini datang bersama cucu-cucu mereka ke Kelapa Gading untuk menyeruput mi yang rasanya sama seperti puluhan tahun lalu. Loyalitas yang menembus lintas generasi inilah ukuran sejati dari apa yang dibangun Om Copin—serta yang terus dijaga Ci Limey dan Ko Irwan setiap pagi sebelum fajar.

Discover Other Stories