Kebanyakan cerita tentang bagaimana sebuah pertemanan dimulai biasanya berawal dari hal-hal yang bersifat “kebetulan”: bertemu di sekolah, di tempat kerja, atau kenalan dari temannya teman. Tapi, yang lebih menarik bukanlah bagaimana pertemanan dimulai, melainkan bagaimana hubungan itu bisa bertahan.
Pertanyaan yang lebih menarik justru bagaimana sebuah pertemanan bisa bertahan selama itu? Apa yang membuat orang terus kembali satu sama lain? Hobi yang sama? Sama-sama tidak suka pada satu hal? Trauma bonding? Atau mungkin kemampuan untuk mendengar lelucon yang sama selama bertahun-tahun tanpa bosan?
Bagi Ko Sugi dan dua temannya sejak SMA, salah satu hal yang terus menyatukan mereka adalah kecintaan yang sama pada bakmi. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk melihat apakah kecintaan itu bisa dijadikan sebuah usaha.
Saat membuka Ncek Legenda pada 2015, ketiganya sama sekali bukan pengusaha restoran berpengalaman. Tak satu pun dari mereka punya latar belakang di bidang F&B; modal mereka hanyalah kegemaran makan dan waktu yang mereka habiskan untuk membicarakan makanan sampai akhirnya muncul pertanyaan: bagaimana kalau membuat sesuatu sendiri?
Riset mereka pun dimulai dengan cara yang cukup alami bagi orang-orang yang suka makan: makan bakmi lebih banyak. Mereka mencoba berbagai macam bakmi, memperhatikan apa yang mereka suka, lalu pulang dan mencoba membuatnya sendiri. Kurangnya pengalaman di bidang F&B rupanya tidak terlalu menjadi masalah. Kalau ada yang tidak berhasil, mereka tinggal mencoba lagi. “Setiap gagal, coba-coba lagi, karena yang kita punya banyak itu adalah waktu,” Ko Sugi menjelaskan.
Ketika Ncek Legenda akhirnya dibuka, mereka menghasilkan semangkuk bakmi yang seolah-olah dirancang oleh tiga orang yang tidak bisa menentukan topping mana yang paling mereka suka. Ada ayam, babi cincang, babi panggang, bacon, dan kacang mede, dengan beberapa jenis mi yang bisa dipilih pelanggan. Salah satu kombinasi andalan mereka, Spesial Camat, menyatukan beberapa topping tersebut dalam satu mangkuk.
Di kawasan yang sudah dikenal sebagai salah satu tempat mencari bakmi, pilihan topping yang berlimpah ini memberikan ciri tersendiri bagi Ncek Legenda. Saat itu, babi panggang dan bacon tentu bukan sesuatu yang asing dalam dunia kuliner Jakarta. Namun, melihat keduanya hadir dalam semangkuk bakmi masih terbilang baru. Ncek Legenda menjadi bagian dari gelombang baru bisnis bakmi yang bermunculan pada pertengahan 2010-an, ketika semangkuk mi mulai dilihat sebagai sesuatu yang masih punya banyak ruang untuk bereksperimen.
“Zaman dulu, bakminya itu rata-rata isinya babi cincang sama ayam,” Ko Sugi mengenang. “Kita mau nambahin apa yang tidak ada justru. Yang tidak ada dari kompetitor kita.”
Kelapa Gading menjadi tempat yang masuk akal untuk memulai. Ketiga pendirinya berasal dari kawasan tersebut dan sudah mengenalnya sebagai daerah yang orang-orangnya cukup serius soal bakmi. Mereka sendiri sudah mencoba banyak kedai bakmi di sekitarnya. Jadi, kalau mau membuka restoran bakmi, sekalian saja di tempat yang sudah mereka pahami.
Ketika Ncek Legenda pertama kali buka, pelanggan mungkin sempat melihat menu dan bertanya-tanya: sebenarnya apa hubungannya Camat atau Gubernur dengan bakmi? Nama-nama tersebut memang sengaja dibuat konyol, tetapi ada tujuannya: mereka ingin ada sesuatu yang membuat pelanggan mengingat Ncek Legenda.
“Saya pengen masih ada yang bisa diinget,” Ko Sugi menjelaskan. “Salah satunya kalau nggak dari rasa, kalau nggak dari kelucu-lucuannya.”
Humornya mungkin membantu, tetapi di sisi bisnisnya butuh waktu untuk menemukan pijakan. Pada awal-awal berdiri, Ncek Legenda rata-rata hanya mencatat lima sampai sepuluh transaksi dalam sehari. Bagi tiga sahabat yang baru saja mengubah kecintaan mereka pada bakmi menjadi sebuah restoran, antusiasme mulai berhadapan dengan kenyataan menjalankan bisnis yang jauh kurang romantis.
Ko Sugi bercerita bagaimana masa-masa awal itu menguji mental mereka. “Itu mental down banget. Kayak udah pengen menyerah.”
Pada titik itu, sebenarnya mudah saja bagi mereka untuk memutuskan bahwa percobaan ini sudah selesai. Namun, seperti yang mereka lakukan di dapur sejak awal, ketiganya terus mencoba.
Di sinilah manfaat menjalankan bisnis bersama dua orang sahabat menjadi paling terasa. Ketika salah satu sedang kehilangan semangat, masih ada dua orang lain yang bisa menjaga semuanya tetap berjalan. Dinamika yang sama kembali mereka rasakan bertahun-tahun kemudian saat pandemi, ketika bisnis kembali melambat dan keinginan untuk menyerah muncul lagi.
“Kalau ada yang satu mentalnya down tuh nggak semua tiga-tiganya gitu. Malah ada yang satu semangatin,” kata Ko Sugi.
Ketika ditanya apa yang mungkin terjadi kalau sejak awal mereka membuka restoran sendirian, jawabannya tidak perlu dipikirkan lama.
“Kalau nggak bertiga sih, kita udah mungkin, menurut saya, udah tutup.”
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, ketiganya masih menjalani usaha ini bersama. Ncek Legenda kini memiliki cabang di Kelapa Gading, Bogor, dan Serpong, tetapi pertemanan yang sudah ada jauh sebelum mangkuk pertama disajikan masih menjadi bagian penting dari bisnis mereka.
Lalu, apa yang membuat mereka bisa terus bertahan selama bertahun-tahun? Menurut Ko Sugi, tidak ada resep rahasia. Yang ada justru satu hal yang harus mereka pelajari bersama: “Kuncinya saling percaya, terus juga ego. Ego mesti bisa ditahan,” katanya.
Jawabannya memang terdengar sederhana. Menjalankan restoran bersama berarti harus berbeda pendapat soal berbagai hal, melewati hari-hari sepi, dan menghadapi berbagai masalah yang bahkan bisa menguji bisnis yang sudah direncanakan dengan matang. Pertemanan tidak membuat semua itu hilang.
Namun, pertemanan bisa menghadirkan seseorang yang siap menarik kita kembali ketika kita sudah ingin menyerah. Tidak mengherankan jika sebuah restoran yang lahir dari kecintaan tiga sahabat terhadap bakmi ternyata juga mampu bertahan berkat hal yang sama sekali tidak berkaitan dengan mi.
Mereka belajar membangun bisnis bersama dengan cara yang paling sering dilakukan oleh sesama sahabat: terus hadir, saling memaklumi kekurangan masing-masing, dan saling memberikan alasan untuk terus melangkah.